Boarding School


Seperti namanya, boarding school artinya sekolah berasrama pun berasal dari Inggris. Di negara monarki tersebut, hampir seluruh boarding school tergolong private school yang sifatnya tertutup.

Mereka independen dalam hal pembiayaan. Makanya jangan heran kalau sekolah itu hanya dihuni oleh anak-anak orang kaya.

Di Indonesia sendiri umumnya boarding school dibangun atas inisiatif organisasi, kelompok atau perseorangan yang memiliki dana tapi tidak mendalam ilmu materi ajarnya, lalu menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang kompeten.

Setelah jadi bangunan dan prasarana, baru kemudian mencari murid dan membuka pendaftaran.

Tidak sedikit yang memasang advertensi, brosur, spanduk untuk sosialisasi sekolahnya.

Apakah ini salah?

Tentu saja tidak. Saya percaya banyak orang mendirikan lembaga pendidikan karena rasa keterpanggilan.

Hanya saja, jika fasilitas jadi iming-iming menyekolahkan anak, jangan heran kalau banyak orang tua menuntut kenyamanan.

Setidaknya itu yang kadang kita jumpai.

Siswa ditugaskan nyapu, walinya gak terima, padahal putranya sedang dididik, “saya udah bayar mahal buat belajar, kenapa anak saya disuruh bersih-bersih!”.

C. Perbedaan Boarding School dan Pesantren

Di negara asalnya, meski dianggap melahirkan tokoh terkenal, boarding school mengalami banyak kritikan karena dipandang elit dan mahal hingga melahirkan pemimpin yang jauh dari aspirasi rakyatnya.

Bagaimana mungkin?

Anak orang kaya, hidup di lingkungan mewah, tak pernah kelaparan, sedikit-banyak dilayani, masuk sekolah mahal, berteman dengan sesama anak ‘sultan’, lulus sekolah tiba-tiba nyalon pejabat.

Itu boarding school di luar negeri loh ya. Indonesia punya – in sya Allah – lebih baik.

Sementara itu di Indonesia, ponpes justru berperan besar dalam kemeredekaan, wadah pemersatu perjuangan dan pergerakan jihad anti penjajahan.

1) Struktur Birokrasi

Sebagaimana telah dipahami, pondok pesantren dirintis seorang kyai dari nol. Mulai ngajar anak-anak ngaji, bujuk orang jadi baik, gratis walau tanpa gedung & fasilitas.

Hingga ramai orang dari jauh, bikin pondokan, koordinir suplai pangan dan kebutuhan pokok, sampai jadi besar.

Karenanya, tidak heran jika semua kebijakan berpusat pada sosok kiyai. Kelebihan pola macam ini, proses pengambilan keputusan cenderung cepat.

Bedanya dengan boarding school, keputusan apapun harus melewati musyawarah secara kolektif antara pendiri atau pengurus organisasi utama.

Kadang kepala sekolah tidak berada dipuncak kepemimpian, di atasnya ada yayasan.

Meski terkesan ribet, karena harus melewati jalur birokrasi, namun dalam hal ini bording school cenderung demokratis.

2) Kepemimpinan

Karena kiyai merupakan sentral figur di pondok, sosoknya adalah yang paling berwibawa, bahkan selainnya seperti ustadz, dan mudabbir terkesan hanya dipinjami wibawa.

Namun, kelemahan dari kepemimpinan tanpa dualisme ini adalah; Saat sang kiyai wafat, pondok akan ikut redup. Peristiwa ini dapat dicegah dengan adanya kaderisasi yang baik.

Masinis boleh ganti, tapi rel tidak boleh bergeser.

Beda lagi dengan bording school, siapapun yang memimpin, tidak mutlak bisa menerapkan kebijakan. Ada aturan dan kontrak yang mengatur.

Inilah beberapa perbedaan boarding school dan pesantren, serupa tapi tak sama. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Komentar